Tampilkan postingan dengan label cerita kata kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita kata kita. Tampilkan semua postingan

Selingkuh Yang Tak Indah

Vienna menatap lelaki itu dari jauh. Dari balik rimbun bougenville merah muda. Dari tempatnya duduk di sudut selatan taman yang berseberangan dengan kantor pos kota. Taman yang selalu ramai dengan aktifitas warga. Dari yang sekedar duduk-duduk menikmati keteduhan, maupun beberapa yang memanfaatkannya sebagai sarana berolah raga. Taman yang dapat menyamarkan keberadaannya. Yang rumpun bougenville-nya mampu meniadakan sosok Vienna. Tersembunyi dan tak terlihat! Baik dari tempat lelaki itu duduk di sisi lain taman, maupun dari jalan raya yang jaraknya sekitar 70 meter-an.

Tempat yang cukup aman baginya. Cukup memberi ruang bagi Vienna untuk mengulur waktu tanpa terlihat. Cukup membantu Vienna untuk mencari tahu adakah orang yang dikenalnya. Ya! Karena dia tak ingin seorangpun tahu keberadaannya di taman ini. Setidaknya hari ini! Hari di mana Vienna akan bertemu lelaki itu.. Sepuluh menit lalu!

Ahh.. Seharusnya Vienna segera menghampiri lelaki itu, mengatakan semuanya, mengucapkan perpisahan dan berlalu secepatnya! Seharusnya dia tak boleh membiarkan lelaki itu menunggu. Rasa bosan lelaki itu dalam penantian, akan berubah menjadi kekesalan. Dan Vienna tahu dengan pasti bagaimana rumitnya keadaan saat lelaki itu sedang marah!

Tapi toh meski menit kembali lewat, dia masih juga ada di sini. Di tempat persembunyiannya. Sesekali menatap lelaki tinggi berambut ikal itu atau kembali menelusuri jalanan di seberang sana dengan tatapannya. Keraguanlah yang menghambatnya. Keberanian yang tiba-tiba menguap setelah melihat wajah lelaki yang begitu akrab terpatri di relungnya. Lelaki itu tak akan mudah menerima keputusannya. Tak akan mau mendengar penjelasannya. Dan jika dia tak hati-hati menyampaikannya, bisa jadi semuanya akan berantakan. Dia tahu, lelaki itu mampu membuat hidupnya porak poranda. Mampu berbuat apapun jika terluka!

Vienna menghembuskan nafas keras saat rasa takut mulai merayap pelan. Tidak! Dia harus mampu mengalahkan rasa takutnya. Rencana ini tak boleh gagal. Akan banyak yang dia pertaruhkan. Hidupnya! Masa depan dan kebahagiaannya! Keraguan dan ketakutannya tak sebanding dengan kehilangan yang akan dia dapat jika gagal!

Vienna kembali melempar tatapannya ke arah jalan. Mencari-cari sebuah tanda. Mencoba mengenali sosok-sosok yang tak begitu jelas terlihat karena jarak yang membentang. Mengkhawatirkan seseorang melihat keberadaannya dengan lelaki itu di taman yang sama!

"Ayo, Vienna! Sekarang atau tidak sama sekali!”

Vienna beranjak dari duduknya. Bangkit perlahan dengan keraguan yang kental. Berjalan dengan wajah menyiratkan kekhawatiran. Menatap lelaki itu dengan sorot mata penuh harapan. Berharap lelaki itu tak bereaksi keras, berharap lelaki itu mampu mengerti keputusannya. Dan berharap lelaki itu tahu, bahwa semua ini juga melukai Vienna!

Jarak mereka masih sekitar 5 meter-an, saat lelaki itu melihat kedatangannya. Jantung Vienna berdetak lebih keras. Ketampanan lelaki itu selalu berhasil membuat lututnya goyah.

“Oh Tuhan, betapa aku merindunya.”

“Kau terlambat, sayang!”

Lelaki itu bangkit dan berjalan cepat ke arahnya. Kekesalan di wajah lelaki itu memudar. Berganti dengan senyum dan tatapan penuh cinta. Tatapan yang membuat batin Vienna tersayat. Kedua tangan lelaki itu membentang saat jarak mereka cukup dekat. Siap untuk memeluk dan mengecup dahi Vienna, seperti biasa. Seperti waktu-waktu kebersamaan mereka.

“Banyak mata, Ren!”

Ditepisnya tangan lelaki itu. Dan menunduk. Tak sanggup menatap mata lelakinya.

“Kau tahu itu! Kenapa justru ditempat ini? Apa yang salah dengan tempat kita?”

“Kita duduk dulu!”

Dengan cepat Vienna melangkah ke arah bangku di mana lelaki itu tadi menunggu.

“Ada apa ini?” Kekesalan tampak jelas dalam suara lelakinya, “seminggu lost contact. Lantas tiba-tiba telphon ngajak ketemuan. Fine! Tadinya aku gembira. Sampai kau sebut taman ini sebagai tempatnya!”

Vienna memejamkan matanya sampai detik kelima. Menyusun keberaniannya dalam diam.

“Kau mulai mengecewakan, Vienna!”

Vienna hanya mampu menatap kemarahan lelakinya tanpa kata. Menepuk bangku di sebelahnya. Memohon lelakinya untuk duduk dan tenang.

“Tidak! Aku tak mau duduk. Karena aku tahu apa yang mau kamu katakan. Kau menginginkan perpisahan, bukan?”

Vienna menundukkan wajah. Pedih itu kembali terasa. Pedih yang mulai mengendap seminggu ini. Pedih yang sudah dia rasakan bahkan hanya karena membayangkan harus terpisah dengan lelakinya. Pedih berbalut rasa takut yang menggetarkan raganya. Digenggamnya tas tangannya erat. Mengaburkan gemetar. Hingga buku jarinya memucat. Dia butuh pegangan untuk mengabaikan keinginan kakinya berlari dan menghindar!

“Oh shit! Benar dugaanku bukan? Kau hanyalah perempuan pecundang. Menjadikanku kesenangan sesaat. Dan membuangku setelah kau bosan.”

“Tidak, Ren!” Sambar Vienna cepat. Menatap lelaki itu dengan mata basah, “Tak seperti itu tepatnya.”

“Ooooo.. Kau tak mungkin jujur! Kau pasti beralasan suamimu mengetahui hubungan kita. Dan kau takut diceraikan. Dan bla-bla lainnya yang semuanya hanya bullshit saja!”

“Tapi memang itu yang sebenarnya.” Lirih suara Vienna. Tertutup isak yang akhirnya pecah. Ahh.. Seharusnya tangis itu tak perlu ada. Seharusnya dia bisa menatap lelaki di depannya dengan tegar. Seharusnya dia mengiyakan saja semua kata Rendra. Dan berlalu. Menjauh. Pergi untuk selamanya! Kembali pada hidupnya yang tenang.

Bullshit! Kalau benar itu yang terjadi, kau tak mungkin seperti ini. Dasar pembohong! Kau pikir aku gampang kau kibuli dengan air mata sinetronmu?”

Isak Vienna semakin keras. Ditutupnya muka dengan kedua telapak tangan. Berusaha meredam suara tangisnya. Berusaha menghapus rasa sakit yang semakin menghujam dadanya. Menggelengkan kepalanya sebagai penyangkalan kata-kata yang menyakitkan dari Rendra.

“Ok! Cukup sandiwaramu, Vienna! Hapus air matamu! Sekarang bangkit dan ikut aku! Tinggalkan suamimu!”

Jeda sejenak. Hanya hitungan detik yang diisi isak Vienna. Sebelum lelaki yang berdiri menjulang di depannya kembali meledak.

“Dasar pembual! Jadi benar kan? Kau tak akan seperti ini jika memang suamimu alasannya. Kau akan langsung meninggalkannya seminggu lalu. Seperti kata-katamu selama ini. Seperti janji kita untuk terus bersama.

Bitch! Dengar!”

Kepala Vienna tersentak ke belakang dengan kuat. Wajahnya mengernyit menahan pedih. Matanya basah menatap Rendra dengan rasa takut yang sangat. Tangan kirinya secara reflek menahan lengan Rendra yang menjambak rambutnya.

“Please, Ren! Sakit...”

“Catat baik-baik, pelacur murahan! Kau akan menerima balasanku. Akan ku lakukan apapun agar kau benar-benar jadi pelacur murahan! Ingat itu!”

‘Plak!’

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Sekejap setelah jambakan di rambutnya terlepas. Sekejap! Semuanya gelap bagi Vienna. Hingga dia tak melihat saat Rendra meninggalkannya. Hanya suara gemerisik langkah kaki yang menginjak rerumputan. Menjauh darinya. Meninggalkannya dalam kegelapan. Mencampakkannya dengan rasa sakit yang teramat dalam.

Rasa sakit di hatinya. Dan rasa perih di kepala dan pipinya.

Vienna memejamkan matanya. Isak itu telah lenyap. Tangan kanannya terangkat, mengusap pelan pipinya yang terasa panas. Akan ada bekas memerah di sana. Dan sudut bibirnya yang sekarang berdarah, akan lebam setelahnya. Seperti biasa, seperti sebulan lalu saat kemarahan Rendra meledak. Tepatnya sejak tiga bulan lalu. Sejak pernikahan Rendra berantakan gara-gara rahasia kisah mereka diketahui istrinya. Dan sejak dia menolak permintaan Rendra untuk meninggalkan suaminya. Sejak itulah Rendra berubah jadi sosok yang kasar bagi Vienna!

Vienna mengaduh lirih saat mengusap sudut bibirnya.

Pada dasarnya Rendra lelaki yang baik. Penuh perhatian dan penyayang. Dan ketiga hal itulah yang membuat Vienna jatuh cinta pada lelaki itu. Dia bisa menceritakan segala hal pada Rendra tanpa takut ditertawakan. Tanpa khawatir Rendra akan menganggapnya perempuan pengeluh. Tanpa tatapan iba yang amat dibencinya. Dan tanpa penghakiman!

“Ahh..!”

Vienna mendesah cukup keras. Dia memang pantas menerima tamparan Rendra. Pantas menerima kekasaran dan cacian Rendra. Pantas menerima semua hinaan Rendra. Karena dia memang pembual besar. Karena dia telah menipu Rendra dengan janji-janji manisnya.

image by bungil


Tapi bukankah semua orang yang sedang jatuh cinta selalu berbagi tentang mimpi dan harapan-harapan dalam hubungan mereka? Jika kemudian janji surga terucap, itu lumrah adanya. Karena rasalah yang dominan saat mereka memadu asmara.

Seharusnya Rendra tak menelan janjinya bulat-bulat. Seperti dirinya yang juga tak pernah menganggap serius janji-janji Rendra. Seharusnya Rendra paham kondisi mereka berdua, bahwa mereka masing-masing masih memiliki ikatan. Seharusnya Rendra sadar, bahwa mereka berdua hanya menjalin sebuah kisah sesaat. Hanya pasangan selingkuh semata. Tak lebih! Dan tak boleh mengharapkan lebih!

Tak ada seorangpun yang menginginkan rumah tangganya hancur berantakan. Hanya orang bodoh yang lebih memilih selingkuhannya dari pada pasangan resmi yang direstui semesta.

Tidakkah Rendra tahu bahwa nafsulah yang lebih dominan pada setiap hubungan perselingkuhan? Tak ada cinta di dalamnya. Sekalipun ada.. Hanya sedikit yang terselip di awal nafsu yang besar. Selebihnya, cinta tertinggal di rumah. Di antara kejenuhan dan hiruk pikuk problematik rumah tangga.

Seharusnya Rendra tahu semua itu! Seharusnya Rendra menghentikan hubungan mereka saat istrinya memergoki kisah mereka. Seharusnya Rendra tetap bertahan di rumah saat istrinya mengajukan pilihan. Dan bukan justru berlaku bodoh dengan meninggalkan perempuan yang telah melahirkan bayi-bayi mereka yang menggemaskan! Seharusnya Rendra mendengarkannya waktu itu! Bahwa tak ada yang bisa diharapkan darinya! Dia masih berstatus istri seseorang. Dia tak mungkin meninggalkan suaminya, meski segunung masalah membebani kehidupannya.

“Oh Tuhan!”

Tak seharusnya Rendra mengambil keputusan yang salah! Dan kemudian menyalahkannya atas apa yang terjadi dengan pernikahan mereka. Menuntutnya untuk secepat mungkin meninggalkan suami yang mencintainya. Merorongnya setiap saat. Dan meledak marah saat dia tak sanggup mengiyakan!

Vienna membuka mata. Mengubah posisi duduknya. Mengedarkan tatapnya ke seputar taman.

Sudah waktunya untuk pulang ke rumah. Melanjutkan hidupnya. Mengubur semua kisahnya bersama Rendra. Dan menguatkan diri untuk menghadapi tatapan penuh curiga suaminya!

Tanpa mampu dicegah, tangan Vienna bergetar. Ketakutan kembali datang. Kali ini bukan rasa takut atas reaksi Rendra.

“Oh Tuhan!” Vienna mendesis lelah.

Diambilnya tissu dari dalam tas. Dihapusnya darah yang keluar dari sudut bibir yang terluka. Mendesis lirih saat usapan itu membuat sakit di sudut bibir kembali menyerang. Vienna menarik nafas panjang. Menyiapkan hatinya. Memutar otak mencari jalan keluar. Masalah besar sedang menghadangnya di pintu rumah!

***


goresan cerita Rinzhara

Setelah Bercinta

“Nggak ada shampo ya, Nduk?”

Ningrum menatap Dody dengan heran. Sementara tangannya masih sibuk mengaitkan kancing BH. Memasukkan kedua  lengan secara bergantian ke dalam lingkaran talinya. Meraih celana dalam dan memakainya. Denyutan di bagian kewanitaannya masih terasa.

Belum setengah jam mereka selesai bercinta. Dan tentu saja dia tak berpikir bahwa sekali bercinta dengan Dody sudah cukup bagi mereka berdua.

Setelah enam bulan hubungan mereka yang penuh gairah, yang hanya bisa mereka luapkan melalui rangkaian huruf di ruang maya. Setelah dia berhasil mencari alasan untuk terbang ke kota Dody dan mencuri kesempatan di antara kesibukannya mengurus anak-anak.

Dan setelah semua itu, tentu saja dia berharap rangkaian mimpi erotis yang menggodanya selama berbulan-bulan akan terwujud dalam pertemuan mereka Jumat ini. Seperti yang selalu mereka lontarkan di kamar-kamar chatting mereka. Saling memagut, saling mengulum, melenguh dan menusuk. Meneriakkan ah ih uh yang bikin mabuk. Memompa birahi yang selama ini terbendung. Dan meledakkannya dalam kenikmatan peluh.

“Mau nunggu? Kalau mau, nanti aku antar sampai terminal.”

Ningrum ternganga. Tak ada kata yang keluar. Hanya tatapan luka penuh keheranan yang mengiringi langkah Dody keluar kamar menuju mushola dekat hotel melati tempat mereka berada.

“Sialan!”

Lengang sesaat.

“Bajingan kau, Dody!”

Bahkan pelacurpun tak akan diperlakukan sehina dirinya!

 ***


FF 200 kata

Rangkaian cerita Rinzhara

image : pinjam dari google

Senja di Stasiun Kota



“Siapa bilang cinta itu buta? Siapa bilang cinta tak perlu logika? Logika tak akan hilang meski cinta mendominasi rasa. Hanya saja kita sering menutup mata hati rapat-rapat hingga tak bisa melihat mana yang benar, mana yang salah.. Mana yang pantas dan mana yang tak pantas.”

Kiera melirik ke samping kanan. Memperhatikan perempuan paruh baya yang duduk di sebelahnya. Perempuan setengah waras – sebenarnya Kiera tak tahu pasti, sih! Hanya saja beberapa hari ini Kiera melihat perempuan itu hanya berkeliaran saja di koridor stasiun kota. Kadang duduk di bangku seberang Kiera, kadang duduk di bangku panjang yang ada di kanan kiri bangku Kiera. Atau hanya mondar mandir di sekitarnya. Sibuk dengan dirinya sendiri. Tak memperdulikan sekelilingnya. Tenggelam dalam lamunan dan dunianya yang tak terjamah.

Seperti senja ini, perempuan itu duduk sebangku dengan Kiera, duduk di sebelah kanannya. Perempuan itu bahkan sudah berada di bangku nomer empat sebelum Kiera datang. Bergumam sendirian. Tak memperdulikan keberadaan Kiera ataupun lalu lalang orang di sepanjang koridor tunggu stasiun Kota.

Awalnya Kiera memang tak memperdulikannya. Membiarkan perempuan itu berada dalam dunianya. Mengabaikan gumamannya yang tak jelas. Hingga suara perempuan itu menelusup ke dalam telinganya. Mengusik relungnya yang tengah berkelana. Membuahkan tanya. Membuat rasa ingin tahunya memuncak.

“Pernahkah kau bertanya dengan mata hati terbuka? Atau setidaknya dengan mengesampingkan rasa sejenak. Apakah benar yang ada di antara kalian itu cinta? Atau hanya nafsu semata? Benarkah lelaki itu mencintaimu? Atau jangan-jangan kau hanya dijadikan sebagai hiburan semata? Sebagai selingan di antara kejenuhan rutinitas?”

Kiera bergerak gelisah. Dia tahu perempuan itu tak sedang mengajaknya berbicara atau bahkan sedang bertanya padanya. Karena sedari tadi posisi duduk perempuan itu tak berubah. Duduk bersandar dengan kedua tangan di atas pangkuan. Dengan raut muka penuh beban. Dengan mata muram menerawang. Bahkan suara perempuan itupun masih berupa gumaman pelan. Banyak kata yang tak tertangkap telinga Kiera. Hingga Kiera harus beringsut mendekat agar bisa mendengar suara si perempuan.

“Jangan percaya kata cinta yang keluar dari mulut lelaki beristri. Waktu telah memberi banyak pengalaman bagi mereka bagaimana cara menaklukkan hati perempuan. Janji manis dan kata-kata cinta selalu mereka jadikan senjata untuk merayu perempuan. Dua senjata itu pula yang digunakan lelaki setiap kali para istri mencium perselingkuhan mereka.

“Jangan bodoh! Tak ada lelaki beristri yang benar-benar mencintai perempuan lain. Tak ada! Semua perempuan yang dipacarinya hanya dijadikan selingan dalam kebosanan. Hanya sebuah permainan ego semata. Cinta, kasih sayang dan hidup para lelaki beristri itu tetap untuk keluarganya. Tetap untuk istri dan anak-anaknya.

“Jangan terlalu naif! Kau pikir apa yang dikatakan lelaki itu semuanya benar? Kau pikir dia benar-benar tak bahagia dengan istrinya? Jangan bodoh! Semua lelaki selalu memakai alasan itu untuk memikat perempuan. Mereka selalu bercerita hal-hal jelek tentang istrinya. Mereka selalu berkeluh kesah tentang perangai perempuan yang dinikahinya. Mereka bahkan menipu kalian dengan mengatakan bahwa pernikahan mereka tak bahagia. Tapi benarkah itu yang terjadi?

“Tentu saja tidak! Pernikahan lelaki itu baik-baik saja! Buktinya mereka toh masih mempertahankan rumah tangga itu. Mereka bahkan masih menyembunyikanmu agar keutuhan keluarganya tak terganggu. Atau kau masih tak percaya? Kenapa kau tak mencoba menantangnya? Tantang lelaki itu untuk meninggalkan istrinya! Tuntut lelaki itu untuk menikahimu secepatnya! Dan kau akan tahu bahwa apa yang kukatakan benar. Lelaki itu akan terus mencari beribu alasan untuk menunda. Mereka akan menggunakan nama anak-anak untuk berkilah. Mereka akan beralasan bahwa tak tega meninggalkan buah hati tanpa figur seorang ayah. Bahwa masa depan anak-anak akan berantakan jika terjadi perceraian. Halah! Bullshit itu semua!

“Lelaki itu sosok paling egois di dunia. Jika dia memang sudah benar-benar tak nyaman dengan istrinya, maka dia tak mungkin mengorbankan hari-harinya hanya demi anak-anak. Jika para istri memang seburuk apa yang suami katakan, tentu lelaki-lelaki itu sudah pergi sejak lama. Sejak sebelum bertemu kamu! Tak perlu menunggu sampai bertemu denganmu!

“Kenapa kau begitu bodoh mempercayai kata-katanya? Apakah tak pernah terpikir olehmu kenapa kau selama ini disembunyikan? Kenapa hubungan kalian harus menjadi rahasia? Bahkan dia tak pernah bosan mengingatkanmu untuk tak bercerita pada siapa-siapa. Bukankah kau juga dilarang menceritakannya pada sahabatmu sendiri? Sahabat yang bahkan tak mengenal lelaki itu sama sekali. Sebodoh itukah kamu hingga tak bisa melihat apa yang sebenarnya lelaki itu inginkan?

“Lelaki itu tak ingin keberadaanmu diketahui istrinya. Karena jika istrinya tahu maka ketenangan rumah tangganya akan terkoyak. Dia akan kehilangan istri dan anak-anak. Lelaki itu terus menyembunyikanmu karena tak ingin istrinya marah dan menuntut perceraian. Dan tidak tahukah kau apa itu artinya? Itu berarti dia masih mencintai istrinya! Masih ingin mempertahankan pernikahannya! Dan kau! Kau bukan siapa-siapa baginya. Kau hanyalah selingan bagi rutinitasnya yang membosankan. Yang akan segera dia campakkan setelah merasa kau mulai mengganggu ketenangannya. Lihat saja! Hanya tinggal menunggu waktu maka dia akan mencampakkanmu begitu saja tanpa beban.

“Bodoh! Sebodoh itukah kamu hingga tak bisa melihat?”

Hanya sekejap. Hanya dalam satu detak mata perempuan disebelahnya seolah melirik tajam pada Kiera. Menusuk dada Kiera dengan kilat kebencian. Membuat nafas Kiera berhenti sesaat. Membuat jantung Kiera berloncatan. Membuat Kiera lekat memperhatikan perempuan paruh baya di sebelahnya.

Perempuan itu masih dalam posisi sama. Duduk bersandar di bangku panjang dengan kedua telapak di atas pangkuan. Wajah perempuan itu juga masih menghadap ke depan. Bahkan mata perempuan itu masih muram menarawang. Tanpa kilat kebencian seperti yang beberapa detik lalu menikam matanya.

Halusinasi! Mungkin hanya dalam bayangannya saja. Mungkin karena kata-kata perempuan itu terasa menamparnya. Menusuk hatinya. Seolah tertuju padanya.

“Jadi jangan sombong jika kau berhasil memikat lelaki beristri. Jangan belagu! Perlu kau tahu, tak ada lelaki yang rela meninggalkan keluarganya demi selingkuhan. Tak ada lelaki yang rela melepas pernikahannya demi perempuan gula-gula. Perempuan yang hanya dijadikan teman di saat bosan. Perempuan selingan! Perempuan yang belum teruji kesetiaannya menghadapi segala susah senang menempuh mahligai pernikahan.”

“What? Perempuan gula-gula?” 

Kiera menggeram pelan. Kemarahan itu bergejolak dalam diam. Tak mampu diledakkan. Karena akan tampak aneh jika dia marah-marah pada perempuan tak waras.

“Tapi menyamakan dengan gula-gula? Oh God!”

Baiklah! Memang perempuan itu tak sedang bicara dengannya. Tak sedang mengatainya. Tapi menyamakan semua perempuan yang memiliki kekasih pria beristri dengan gula-gula juga sudah keterlaluan!

Perempuan di sebelahnya ini mungkin tak pernah mendengar tentang cinta yang datang di waktu yang salah. Seperti cintanya dan Byan. Sebuah cinta tulus yang datang di saat yang tak tepat. Yang butuh pengorbanan besar dari kedua belah pihak. Yang membuat mereka harus menahan rasa. Berusaha keras menahan keinginan untuk bersama. Menunggu dengan sabar hingga semesta merestui cinta mereka.

Kiera menarik nafas dalam. Menenangkan kekesalannya. Melirik jam di pergelangan kirinya. Tinggal dua menit lagi kereta listrik Byan akan memasuki stasiun di mana mereka biasa berjumpa. Kiera menoleh ke arah jalur kedatangan dengan tak sabar. Berharap kereta itu secepatnya muncul dari sana. Menurunkan lelaki yang tengah membawa rindu Kiera dalam genggamannya. Menyatukan cinta mereka untuk sesaat. Yah! Meski sesaat, namun cukup bagi mereka untuk merenda kerinduan yang terpenggal.

“Kenapa harus marah jika aku menyebutmu perempuan selingan? Kau toh memang hanya selingan baginya. Hanya dijadikan pemanis bagi rutinitasnya yang membosankan. Coba saja beri dia sesekali rasa pahit dalam hubungan kalian. Maka tak perlu menunggu lama, lelaki itu akan menjauhimu pelan-pelan agar kau tak berulah. Agar kau tak membuka kisah kalian di depan istri sahnya. Dan akhirnya akan tiba waktunya kau benar-benar dicampakkan!

“Jadi jangan senang dulu jika lelaki itu menjanjikanmu ini itu. Semua itu hanya omong besar. Selama kau tetap disembunyikan, maka statusmu tetap sebagai selingan semata. Tak akan lebih!

“Selama kau tetap disembunyikan, itu berarti semua omong kosong ketakbahagiaannya bullshit semata. Dia menyembunyikanmu karena dia tahu, rumah tangganya akan hancur jika sampai istrinya tahu. Dan itu berarti dia lebih memilih istrinya dibanding kamu! Sesederhana itu!

“Dan masihkah kau akan terus melakukan kebodohan dalam hidupmu? Masih banyak lelaki di luar sana yang menunggumu. Lelaki bebas. Lelaki yang mencintaimu dengan tulus. Yang bisa menghargai dan memperlakukanmu lebih baik. Yang bisa kau miliki tanpa merebut milik orang lain.”

Suara perempuan itu masih terdengar di telinganya. Sesekali masih mempengaruhi perasaannya. Sesekali masih membuatnya kesal. Tapi Kiera berusaha keras mengabaikan, berusaha menepis segala rasa yang mengganggu kesenangannya, meyakinkan dirinya bahwa Byan tak sama dengan yang lainnya. Bahwa Byan mencintainya. Dan lagi, perempuan paruh baya itu toh tak tahu tentangnya. Tak tahu betapa selama ini Kiera-lah yang berusaha menahan Byan untuk tak menceraikan istrinya. Menguatkan Byan saat istrinya kembali menyakiti perasaan dengan sikap buruknya. Menyemangati Byan untuk bertahan demi anak-anak. Ya! Anak-anak Byan masih balita, masih butuh kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya. Apalagi anak-anak itu begitu dekat dengan Byan, akan sulit bagi mereka menerima perceraian orang tuanya. Seperti yang selalu Byan ceritakan pada Kiera, betapa Byan juga tak bisa terpisah dari anak-anak. Jadi tak ada yang bisa dilakukan Byan selain bertahan. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menanti waktu berpihak pada mereka. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain berharap semesta segera merestui cinta mereka.

Ya! Tak perlu menantang Byan seperti saran perempuan paruh baya di sebelahnya. Tanpa ditantangpun Byan sudah berulang kali menyuarakan keinginannya untuk keluar dari rumah. Jadi tak perlu pura-pura menyuruh Byan memilih antara Kiera atau istrinya. Tanpa bertanyapun, dia yakin bahwa Byan akan lebih memilih Kiera!

Kiera tersenyum dalam lamunannya. Suara kereta mulai samar terdengar. Mereka masih duduk di bangku panjang untuk beberapa saat. Kiera dengan bibir terus menyunggingkan senyum bahagianya. Dan perempuan paruh baya di sebelahnya yang masih sibuk dengan gumamannya yang semakin tak terdengar. Tertelan riuhnya lalu lalang orang di sekeliling mereka. Gumaman yang sama sekali lenyap saat kereta listrik Byan mulai memasuki jalur kedatangan.

Kiera berdiri dari duduknya. Berbalik untuk melihat kereta itu berhenti dengan suara mendesing yang keras. Matanya terpaku pada gerbong-gerbong yang berjajar. Sibuk mencari sosok Byan dengan matanya. Mengabaikan perempuan paruh baya yang duduk di sebelahnya.

Tak perlu kemana-mana. Tak perlu mengirim pesan ke messenger Byan seperti yang biasa Kiera lakukan di awal-awal hubungan mereka. Karena kini Byan sudah hafal di mana Kiera biasa menantinya setiap senja. Di bangku ini!

Bangku panjang yang membelakangi jalur kereta, nomer empat dari kanan!

***

Byan berjalan cepat menyusuri koridor stasiun Kota. Berkelit dan menghindari tubuh-tubuh yang bergegas seperti dirinya. Mengejar waktu. Menyongsong rindu yang tengah menunggu.
Senja ini, seperti senja sebelumnya selama tiga purnama, Kiera akan menunggunya dengan setia. Berdiri dengan tak sabar. Tapi dengan raut muka bercahaya. Dengan tatapan mengundang dan dengan senyum yang menggoda.

Seperti sekarang, Byan sudah bisa melihat sosok Kiera yang sedang berdiri di dekat bangku nomer empat. Tubuh moleknya yang dibalut setelan kerja tampak memikat. Bergerak-gerak gelisah seolah tak mampu lagi menahan hasrat. Membuat Byan mempercepat langkah. Memperpendek jarak yang membentang. Mengunci tatapan Kiera hanya pada sorot matanya. Mengirimkan signal-signal yang menggetarkan rasa. Tak perduli hilir mudik orang-orang dalam lintasan jarak. Mereka terus bertatapan dengan gairah yang semakin membara. Saling tersenyum mesra. Mengikat rasa. Bercinta dalam tatapan mata.

Hingga saat jarak semakin dekat, tiba-tiba satu sosok perempuan memutus kontak mata mereka. Menghalangi pandangan Byan pada senyum Kiera. Membuat Byan mengalihkan tatap dan tersentak! Sosok perempuan yang sedang berjalan mendekat itu tersenyum riang padanya. Tak menyadari bahwa kehadirannya membuat Byan ketakutan. Tak pernah menyadari bahwa sedetik lalu Byan hampir saja menghancurkan hatinya.

Byan berdiri dengan gelisah. Berusaha bersikap biasa. Berusaha menyembunyikan kegugupan melihat sosok istrinya berada di depannya. Tersenyum tanpa prasangka. Merengkuh Byan tanpa menyadari tubuh Byan tengah gemetar penuh kekhawatiran. Tak pernah tahu bahwa saat Byan mengecup dahinya, terlontar doa dalam diam. Berharap Kiera menyadari apa yang tengah terjadi di antara mereka. Berharap kali ini Kiera tak membuat ulah. Merapalkan doa agar Kiera tak mendekat. Tak membongkar perselingkuhan mereka. Tak menyakiti hati istri yang dicintainya. Tak berbuat bodoh menghancurkan rumah tangga Byan!

Dengan bergegas, Byan menghela bahu istrinya, berjalan menjauhi koridor tunggu stasiun Kota, meninggalkan Kiera yang masih ternganga, tak mengerti apa yang dilihatnya. Mengabaikan Kiera dengan kebingungannya. Membiarkan Kiera memahami sendiri kenapa Byan merengkuh bahu perempuan setengah waras yang tadi duduk di sebelahnya!

***

Goresan Cerita Rinzhara

(bukan) Rekayasa Cinta - bagian 3




Sedari tadi dia hanya berputar-putar tanpa tujuan. Menyusuri jalanan ibu kota tanpa arah. Menjauhi rumah. Sibuk dengan relungnya. Sibuk dengan gejolak rasa. Mengaburkan gundah pada kerlip lampu-lampu malam yang ceria. Melarungkan sakit hati pada angin yang berhembus melalui kaca jendela mobilnya. Menyiapkan rasa untuk menghadapi Bara.

Ya! Bara mungkin sudah tahu apa yang telah terjadi senja tadi di beranda. Perempuan itu mungkin sudah menceritakan tentang perjanjian yang dia tawarkan. Dan mungkin sekarang Bara sedang menunggunya di teras seperti biasa. Dengan wajah tegang. Dengan mata merah menahan marah. Menunggu penjelasannya yang panjang lebar tanpa kata. Mungkin Bara tak akan meledakkan marahnya seperti biasa. Bara hanya akan diam. Mendiamkan Raesha lebih tepatnya. Berlalu dari depannya dan mengunci diri dalam kamar. Menghindarinya hingga berhari-hari. Hingga Bara bosan atau hingga waktu mengurai pertikaian. Seperti biasa!

Ahh.. mungkin juga tak seperti itu! Mungkin kali ini berbeda. Oh ya! Tentu saja kali ini berbeda. Bara mungkin akan meledakkan amarahnya. Mungkin dia tak akan diam. Mungkin dia memilih berlalu dari hidupnya. Pergi ke tempat Laras. Mengadukan penyesalannya atas sikap Raesha. Mengadukan sakit hatinya. Dan memutuskan untuk meninggalkan Raesha selamanya.

Ya! Ya! Mungkin itu yang akan terjadi sekarang. Mungkin dia justru akan kehilangan Bara selamanya!

Ahh.. Seharusnya dia tak gegabah mengambil keputusan. Seharusnya dia memikirkan baik-baik langkah yang akan dia ambil. Mungkin seharusnya dia tetap berpura-pura tak mengetahui tentang perselingkuhan mereka. Menutup mata atas hubungan mereka yang telah melampaui batas. Menahan rasanya sementara. Menunggu waktu yang memisahkan mereka.

Ya! Bukan tidak mungkin Bara suatu waktu akan bosan pada Laras. Siapa tahu saat ini Bara hanya sedang tergoda pesona perempuan yang berbeda jauh dengan istrinya. Ya! Bisa jadi itu yang terjadi jika saja dia mau sedikit bersabar.

Bukankah selama ini banyak lelaki yang lebih memilih istrinya ketimbang selingkuhan? Hanya sebagian kecil lelaki yang mengorbankan keluarganya untuk kekasih gelap mereka. Dan dari sedikit lelaki itu hanya lelaki-lelaki bodoh-lah yang tak bisa mensyukuri apa yang telah mereka dapatkan! Bagi kebanyakan lelaki, selingkuh hanya sebuah permainan. Hanya dijadikan sebagai alat pemuas ego mereka. Atau hanya sebuah selingan di antara jenuhnya rutinitas. Karena itulah mereka selalu menyembunyikan kekasih-kekasih gelap mereka. Melakukan banyak kebohongan pada istri mereka karena takut rumah tangganya berantakan. Menyembunyikan pengkhianatan karena mereka menganggap para selingkuhan itu hanya sebuah permainan yang tak akan diijinkan merusak pernikahannya!

Seperti Bara yang menyembunyikan hubungannya dengan Laras di depan Raesha! Ahh.. Apakah itu berarti Bara juga lebih memilihnya dibanding Laras? Apa itu berarti Bara takut rumah tangganya berantakan jika Raesha mengetahui tentang kekasihnya? Benarkah Bara lebih memilihnya? Benarkah dia menyembunyikan Laras karena ingin mempertahankan kehangatan rumah tangganya bersama Raesha? Atau hanya ingin menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskannya pada Raesha? Atau mungkin Bara sendiri belum yakin dengan Laras?

Ya..ya..ya! Tak mungkin Bara lebih memilihnya dibanding Laras. Tak mungkin Bara mempertahankan rumah tangga mereka. Tak ada kehangatan dalam hubungan pernikahan mereka. Tak ada apapun yang dimiliki Raesha untuk mempertahankan Bara. Tak ada! Hanya lelaki bodoh yang lebih memilih perempuan angkuh yang tak bisa memberikan keturunan dibanding perempuan lembut yang bisa melahirkan selusin anak!

Raesha menyentakkan kemudinya ke kanan. Mengambil jalur bebas hambatan. Memacu mobilnya kencang setelah melewati pintu gerbang tol luar kota. Melampiaskan semua kemarahannya pada laju kendaraan. Meleburkan sakit hatinya pada angin yang bertiup kencang akibat laju kendaraan yang cepat. Membekukan air matanya agar tak tumpah!

Sebenarnya ada satu hal yang mengganjal di hati Raesha saat meninggalkan beranda rumah Laras. Sebuah tanya yang tak terucap. Yang sengaja tak dia tanyakan tapi terus mengganggu pikirannya.

Kenapa Laras mengira semua ini sebuah rekayasa? Kenapa Laras berpikir bahwa dia telah merencanakan semua ini bersama Bara? Bahwa Bara mendekati Laras demi tujuan yang sama? Adakah kata-kata Raesha yang salah? Yang membuat Laras berpikir bahwa semua ini telah dia rencanakan?

Raesha mengendurkan injakannya pada pedal gas. Benaknya sibuk memutar ulang kejadian di beranda rumah Laras.

Senja tadi dia datang dan menyerahkan map merah berisi surat perjanjian tanpa kata. Lebih banyak diam dari pada biasanya. Dia bahkan tak berbasa basi menanyakan kabar anak-anak Laras. Dia bahkan tak membawa oleh-oleh untuk mereka seperti kebiasaannya. Hatinya terlalu gundah hingga tak terpikirkan. Dia terlalu sibuk memperhatikan ekspresi Laras saat membaca surat itu hingga tak memperdulikan keberadaan anak-anak Laras. Dia terlalu terkejut dengan tuduhan Laras senja tadi hingga tak perduli apapun juga!

“Sudah berapa lama kalian merencanakan hal menjijikkan ini? Sudah berapa lama, Raesha?”

Awalnya dia benar-benar tak mengerti maksud pertanyaan Laras. Jadi dia biarkan Laras menumpahkan rasa kesal dan kemarahannya. Dia hanya diam, sambil menyerap satu demi satu kata-kata Laras.

“Tega sekali kalian memperlakukanku. Sehina itukah aku di mata kalian? Kalian benar-benar tak punya hati! Bahkan pelacurpun lebih berharga dari pada kelakuan kalian.”

Banyak kata-kata pedas dan menyakitkan yang dilontarkan Laras. Yang membuat Raesha tak mengerti sama sekali. Bukankah seharusnya dia yang mencaci Laras? Bukankah perempuan itu yang bertindak murahan dengan bercinta dengan suami Raesha?

Raesha menggeram penuh amarah. Kata-kata itu lebih tepat ditujukan pada Laras. Bukan Raesha! Bukankah perempuan itu yang telah melacurkan diri pada suami Raesha? Jadi kenapa justru perempuan itu mengatai Raesha lebih buruk dari pelacur? Justru laras-lah yang lebih buruk dari pelacur! Pelacur toh masih menghargai tubuh mereka dengan nominal tertentu. Sedangkan Laras? Dia melakukannya dengan suka rela. Tanpa bayaran! Mencurangi sahabatnya. Mengkhianati kebaikan Raesha! Tidur dengan suami Raesha!

Geraman yang lebih keras kembali terdengar dari mulut Raesha. Kemarahan begitu menguasainya. Kejadian seminggu lalu kembali terbayang. Apa yang dilihatnya di serambi rumah Laras kembali tergambar jelas.

Malam itu dia berjalan kaki dari menyelesaikan urusan kerjaan di suatu tempat yang jaraknya memang cukup dekat dengan rumah Laras. Terlalu lelah untuk kembali ke kantornya mengambil kendaraan. Dan memutuskan untuk singgah di rumah sahabatnya, menghubungi suaminya dan meminta jemput secepatnya. Tubuhnya teramat penat hingga dia ingin segera pulang ke rumah. Berendam air panas dan membenamkan tubuh di atas ranjang yang nyaman.

Sebelum malam itu, dia tak pernah berpikir apapun tentang Laras dan suaminya. Dia tahu Bara sering berkunjung ke rumah Laras. Seperti dirinya, Bara menyayangi anak-anak Laras. Sering mampir ke rumah Laras sekedar bercanda dan bermain dengan dua anak Laras yang pintar-pintar. Sering mengajak kedua anak itu untuk sekedar berjalan-jalan di taman. Dia dan Bara menumpahkan rasa rindu akan hadirnya buah hati pada kedua anak manis Laras.

Jadi wajar jika malam itu dia tak berprasangka apa-apa saat melihat mobil Bara di halaman rumah Laras. Dia bahkan bersyukur karena tak perlu repot menelphon Bara. Tak perlu jenuh menunggu kedatangan Bara. Dia bisa segera mengajak Bara pulang atau mampir dulu untuk makan malam di restoran favorite mereka.

“Oh Tuhan.. Aku bahkan tersenyum ceria malam itu!”

Ya! Raesha memang tersenyum ceria malam itu. Melangkah cepat sambil matanya menatap beranda depan dengan berbinar. Melihat sosok Bara yang tegap sedang duduk membelakanginya. Melihat wajah Laras yang tersenyum letih di kursi panjang samping kanan. Dia sudah cukup dekat malam itu saat tiba-tiba Bara bangkit dari duduknya. Pindah ke samping Laras. Keningnya berkerut heran saat melihat tangan Bara memegang bahu Laras. Begitu herannya hingga kakinya berhenti melangkah. Berdiri diam berselimut kegelapan. Terus menatap dua orang terdekat dalam hidupnya yang tengah mempertontonkan hal yang tak wajar. Melihat dengan jantung berdegup kencang saat kedua tangan Bara mulai bergerilya meraba tubuh Laras. Melihat dengan hati tersayat saat mereka berciuman mesra. Mereka.. Bara dan sahabatnya malam itu berhasil menghancurkan hidupnya saat melangkah masuk terburu dengan masing-masing tangan sibuk membukai pakaian!

Raesha tersengal isak. Butiran bening itu akhirnya tumpah. Untuk pertama kalinya sejak kejadian di beranda, air mata Raesha mengalir membasahi wajah!

***


Bersambung...

Goresan cerita Rinzhara 

di Ujung Lara Nayra

“Waktu tak bisa diputar ulang. Waktu akan terus berjalan. Berat ataupun ringan. Mau ataupun tidak. Kau harus mengikuti sang waktu.”

Suara Kenzie begitu tenang. Tanpa beban. Bahkan mungkin tanpa rasa! Berbeda sekali dengan gejolak rasa di dada Nayra.

“Waktu yang sudah berlalu, selamanya akan menjadi masa lalu. Tak bisa dijadikan masa kini. Apalagi masa depan.”

Lelaki itu masih berkata-kata. Nayra sendiri hanya diam dan menatap lekat lelaki yang duduk di depannya. Tak sekalipun dia mengalihkan tatap. Meski sedari tadi, lelaki itu tak sekalipun membalas tatap Nayra. Hingga mungkin Kenzie tak pernah tahu ada sorot luka di mata Nayra. Bahkan mungkin Kenzie juga tak menyadari bahwa kata-katanya membuat kelopak Nayra basah!

“Seperti halnya kisah kita, Nay! Sudah berlalu. Sudah menjadi masa lalu.”

Sebenarnya tak perlu mendengar Kenzie berbicara lebih banyak. Nayra sudah bisa menduga jawaban lelaki itu sejak awal. Sejak pertama kali dia berdiri berhadapan dengan lelaki itu sejam lalu. Saat Nayra menyadari bahwa Kenzie terlihat tak begitu senang bertemu dengannya siang ini.
Seharusnya Nayra bergegas pergi dari depan Kenzie sejak tadi. Dan bukan membiarkan sakit itu merejam hatinya. Bukan justru membiarkan Kenzie mengatakan lebih banyak hal yang menyakitkan.

Akan lebih baik bagi Nayra berlalu dari depan Kenzie secepatnya, melupakan segala cerita cinta mereka, membuang harap dan menanggung sendiri masalahnya. Daripada dia hanya diam mengutuki kebodohan karena telah mempermalukan diri menemui lelaki yang tak lagi mencintainya. Daripada hanya menyesali keputusannya meminta Kenzie yang tak lagi menginginkannya. Daripada membiarkan dadanya sesak oleh ketololannya karena telah mengungkapkan kerinduan dan rasa cinta.

“Lupakan aku, Nay! Lanjutkan hidupmu! Suatu saat waktu akan membantumu menemukan lelaki yang lebih segalanya dariku. Suatu saat kamu akan menyadari bahwa aku memang bukan yang terbaik bagimu.”

Nayra sudah membuka mulutnya untuk berkata. Saat kepala lelaki itu bergerak pelan. Untuk pertama kali sejak mereka berhadapan, Kenzie membalas tatapnya. Tatapan dengan ekspresi tak terbaca. Dengan raut muka tenang. Namun mampu memporakporandakan perasaan Nayra. Mampu membuat jantung Nayra bergemuruh keras. Mampu membuat nafas Nayra terhenti sesaat! Tak ada cinta dalam tatapan Kenzie!

Hanya sesaat Kenzie menatapnya sebelum kemudian berlalu dari hadapan. Melangkah cepat meninggalkan Nayra. Tak sekalipun Kenzie menoleh untuk melihat keadaan Nayra. Tak sekejappun Kenzie berhenti melangkah mendengar panggilan Nayra. Kenzie terus melangkah. Terus menjauhi tempat Nayra berada. Pergi dari hidup Nayra untuk selamanya.

***

Nayra menghempaskan tubuhnya di atas ranjang setelah selesai memasang headset di telinga. Rasa penat setelah membuat kue ulang tahun sedikit mengabur. Lantunan suara Duta mengalun pelan di telinganya. Merasuk ke dalam rasanya. Membuai kesedihannya.

“Mudah saja bagimu, mudah saja untukmu. Andai saja cintamu seperti cintaku...”

Mulut Nayra melantunkan tembang itu dengan penuh perasaan. Lagu favoritenya beberapa bulan terakhir ini. Gambaran kisahnya. Seolah Sheilla on Seven memang menciptakan lagu itu untuknya. Untuk memanjakan kesedihannya.

“Gimana loe bisa move on, Nay! Kalo tiap hari loe denger lagu itu mulu.”

Seulas senyum pilu terkembang di bibir Nayra saat mengingat kegusaran Marla setiap kali melihatnya menyendiri dalam kamar. Mendengarkan lagu-lagu melankolis. Atau menulis puisi-puisi tentang sakit hati dan kerinduan. Senyum semu yang sering menjengkelkan sahabatnya. Bahkan tak jarang membuat Marla meledak marah.

“Bangun, Nay! Keluar dan gaul! Masih banyak cowok baik di luar sana. Gak ada gunanya loe mewek-mewek begini. Loe harus lanjutin hidup seperti sebelumnya. Bahagia dan ceria. Seperti Nayra yang gue kenal!”

“Andai semudah itu, La.” Gumam Nayra di antara suara Duta.

Kadang Nayra tak habis pikir dengan orang-orang yang selalu menganggap mudah segala hal yang terjadi dengan orang lain. Padahal belum tentu jika orang itu menghadapi masalah yang sama, mampu mengatasi semudah yang mereka nasihatkan.

“Siapa sih yang ingin berada dalam kesedihan selamanya? Memang dipikir enak ya berkubang dalam sakit hati setiap detiknya? Mereka toh hanya pintar bicara. Coba saja jika mereka berada di posisiku. Apakah mereka bisa secepatnya melupakan masa lalu? Apa mereka bisa secepatnya bangkit dan memindahkan cinta pada lelaki lain? Apa mereka tahu bagaimana rasanya menjadi aku? Apa mereka bisa merasakan duka di hatiku?”

Nayra memutar badannya. Menempatkan dirinya senyaman mungkin di atas ranjang. Masih dengan headset di kedua telinganya. Masih dengan suara Duta yang terus diputar ulang. Masih dengan berbagai suara yang mengganggu relungnya.

“Mau sampai kapan loe begini terus?”
“Sampai senyumku tak lagi semu.”

Tak lelah-lelahnya Marla menyemangati Nayra. Tak bosan-bosan sahabatnya itu mengajak keluar dan berteman dengan banyak orang. Tapi Nayra punya seribu alasan untuk berkilah dan menolak. Selalu ada jawaban di setiap usaha Marla.

“Suatu saat.. Saat umur loe sudah tak muda lagi. Saat lelaki single seusia loe sudah jarang ditemukan. Loe akan menyesali saat-saat ini, Nay!”

Ingin rasanya Nayra berteriak di telinga Marla, bahwa Nayra sendiri juga menyesali apa yang pernah terjadi! Hidupnya kini tak sama lagi. Tak ada waktu baginya untuk bersosialisasi. Tak ada waktu buat mengenal lelaki lain. Hidupnya sekarang hanya untuk bekerja dan secepatnya pulang ke rumah. Bahwa dia kini bukan Nayra yang dulu lagi.

Nayra yang ini adalah Nayra yang telah melalui kepedihan selama 19 bulan tanpa henti. Yang telah mengalami getirnya hidup sendiri. Yang harus menghadapi kemarahan orang tuanya dan orang tua Kenzie. Tanpa belas kasih akan keadaannya. Tanpa ikut memikirkan masa depannya. Tanpa teman yang mau mendekat. Hanya Marla seorang!

Ya! Hanya Marla yang tak pernah berhenti membantunya. Menyemangati hidupnya. Menemaninya melewati hari berat. Menuntunnya saat Nayra kelelahan. Bahkan Marla pula yang memperjuangkan Nayra di depan atasan agar tetap bekerja saat Nayra terlalu sering alpa.

Nayra menghapus butiran bening yang meleleh tiada henti. Melepas headset dari kedua telinganya. Berusaha menghentikan isak.

Ahh.. Andai waktu bisa diputar ulang... Andai kejadian 19 bulan lalu bisa diulang.. Dia tentu tak akan menuruti kata hati. Dia tentu tak akan meminta Kenzie menemui. Dia tentu tak akan meminta Kenzie untuk kembali. Kenzie tentu tak akan pernah datang ke taman hari itu. Tak perlu melarikan diri dari Nayra. Tak perlu takut oleh teriakan Nayra. Bahkan mungkin tak perlu tahu kondisi Nayra. Hingga orang tua Kenzie tak perlu menyalahkannya!

Tapi benarkah dia yang bersalah? Pantaskan setelah dia harus menanggung sendiri bebannya, masih juga harus menanggung rasa bersalah?

Saat itu Kenzie melangkah cepat meninggalkannya. Tak memperdulikannya. 19 bulan lalu! Berlalu terburu. Seolah ingin secepatnya pergi dari hidup Nayra. Seolah tak ingin lagi mendengar kata-kata Nayra. Seolah tak mau tahu dengan kabar yang ingin disampaikan Nayra. Bayangan harus menghadapi masalahnya sendirian, membuat Nayra panik. Membuat Nayra berlari mengejar Kenzie. Berteriak memanggil lelaki yang seolah semakin kencang melangkahkan kaki. Membuat Nayra terpaksa mengatakannya dengan teriakan saat jarak mereka sudah cukup dekat. Cukup dekat bagi Kenzie mendengar kata-katanya. Agar Kenzie menghentikan langkah. Agar Kenzie berbalik arah. Agar Kenzie menghampirinya!

Nayra terisak. Bahunya berguncang pelan.

Kenzie memang berhenti saat itu. 19 bulan lalu. Kenzie juga membalikkan badan hingga menghadap Nayra dengan wajah tercengang. Dengan tatapan tak percaya. Dengan mulut ternganga. Tapi tanpa mendekat!

Mereka berdiri berhadapan dengan jarak 5 meter yang membentang. Nayra dengan tatapan iba dan air mata. Sedang Kenzie dengan tatapan tak percaya dan kemarahan.

“Berusaha mendapatkan keinginan dengan melakukan kebohongan itu perbuatan memalukan, Nayra!”

Suara Kenzie begitu tenang dan pelan saat itu. Tapi mampu membekukan hati Nayra.

“Dengan cara itu kau justru akan kehilangan semuanya. Aku, kenangan indah kita dan bahkan sisa rasa!”

Dan lelaki itu berbalik dengan cepat. Kembali tak memperdulikan teriakan Nayra. Tak mau mendengar penjelasan Nayra. Begitu terburu ingin berlalu dari hidup Nayra. Begitu takut oleh kebenaran yang dibawa Nayra. Begitu cepat langkahnya hingga tak mampu menghindar saat sebuah kendaraan roda dua melaju kencang dari samping kanan.

Dengan kedua matanya, Nayra menyaksikan tubuh Kenzie terlempar ke kiri begitu keras. Kepala lelaki itu menghantam tiang listrik yang berdiri menjulang di sisi kiri jalan. Dengan suara derak yang mengerikan. Dengan darah begitu banyak setelahnya.

Nayra tersedu dalam posisinya berbaring miring di atas ranjang. Bayangan darah dan suara derak itu masih jelas dalam ingatan. Sampai sekarang! Meski 19 bulan telah berlalu dengan penuh kepahitan.

“Mam.. Mam...”

Nayra tersentak. Bayangan masa lalu itu menghilang cepat. Dengan terburu, Nayra menghapus cepat air mata. Menyiapkan senyum terbaiknya. Kemudian berbalik dan merentangkan tangan.

Peri kecil berwajah bidadari itu berdiri berpegangan di kusen pintu kamar. Menatapnya dengan binar menggemaskan. Dengan rambut kemerahan yang tumbuh jarang di kepalanya. Dengan dua gigi yang terlihat dalam senyum Kenzie di wajah mungilnya. Di belakang peri kecilnya, mbak Min, pembantu rumah tangganya, berdiri dan tersenyum riang.

Nayra bangkit dan melangkah cepat. Memeluk erat bidadarinya. Menumpahkan cinta dan rasa sayangnya. Pada belahan jiwanya. Pada peri kecil sumber semangat hidupnya. Pada bayi mungil yang deminya-lah Nayra mampu melewati segala kepedihan! Pada satu-satunya cinta dan rindunya kini bermuara!

“Selamat ulang tahun yang pertama, Kenzie sayang.”

Dan dikecupnya kedua pipi gadis mungilnya dengan gemas. Yang disambut tawa ceria. Seceria hari-hari yang menantinya.

***




Goresan Cerita Rinzhara

(bukan) Rekayasa Cinta - bagian 2




Senja telah berlalu. Serambi depan sudah diselimuti kegelapan. Jejak Raesha telah lenyap. Tapi untuk beberapa saat, Laras masih terdiam dalam kesendirian. Masih bingung dengan apa yang barusan terjadi padanya. Masih gamang menentukan sikap. Masih banyak tanya yang membutuhkan jawaban.

Sebelum kemudian memutuskan beranjak. Berdiri linglung menatap surat perjanjian di atas meja. Meraihnya dengan enggan. Dan melangkah, meninggalkan serambi depan yang gelap.

Tak perlu lagi membaca detail perjanjian itu. Karena bahkan dengan sekali baca Laras sudah tahu maksud yang tertuang di dalamnya. Dan hanya sekali baca pula Laras sudah tahu jawabannya. Tak perlu berpikir ulang seperti pinta Raesha. Sampai kapanpun jawaban Laras tetap sama. Tidak!

Ada lima lembar dalam bendel surat perjanjian yang dibawa Raesha. Lembar pertama dan kedua berisi tentang siapa Raesha yang disebut sebagai pihak pertama. Ada juga nama Bara yang disebut sebagai pihak ketiga. Dan nama Laras sendiri berikut semua data diri yang termuat sebagai pihak kedua. 

Di lembar ketiga dan keempat tertulis maksud dan tujuan Raesha membuat surat perjanjian itu. Meski disamarkan dengan bahasa hukum yang rumit, namun Laras tahu apa sebenarnya maksud Raesha sebenarnya. Kasarnya, Raesha menginginkan rahimnya untuk melahirkan anak. Anak yang nanti sepenuhnya milik Raesha. Laras hanya bertugas hamil dan melahirkan. Tanpa tanggung jawab membesarkan. Bahkan jika mungkin anak yang dilahirkan dari rahimnya itu tak boleh tahu siapa Laras baginya. Oh ya, dengan peran Bara tentunya. Dan sudah pasti dengan imbalan nominal yang besar. Ya..ya! Bukankah orang-orang seperti Raesha dan Bara memang selalu menggunakan uang untuk memecahkan masalah mereka? Sedangkan untuk pernikahan yang ditawarkan Raesha hanya sebuah cara untuk mendaparkan sertifikat halal dari tuhan.

Hah! Mereka pikir Laras sama piciknya dengan mereka? Mereka pikir kemiskinannya selama ini akan membuat Laras mudah tergiur sejumlah uang? Mereka pikir pernikahan dengan tujuan kotor seperti yang direncanakan Raesha dan Bara akan direstui Tuhan?

Bodoh! Ternyata mereka menggunakan kepintaran mereka untuk hal-hal tolol! Apa mereka pikir bisa menipu tuhan?

Laras mendengus kesal. Melangkah cepat menuju belakang rumah. Melemparkan begitu saja surat perjanjian itu keatas bufet di ruang tengah. Dan tersenyum penuh sayang saat melihat kedua anaknya telah terlelap di ruang tengah. Dengan hati-hati Laras memindahkan mereka ke dalam kamar. Mengecup dahi-dahi buah hatinya. Menyiapkan berbagai perlengkapan sekolah mereka untuk esok harinya. Dan menyibukkan diri dengan berbagai adonan yang telah akrab dengan malam-malamnya.

Tak ada waktu untuk menikmati kesedihan saat ini. Karena masih banyak tugas menanti. Masih banyak yang harus dilakukannya agar bisa menghidupi buah hati esok hari.

Dan tak ada gunanya menyesali yang pernah terjadi. Bukankah dengan kejadian ini, Laras bisa cepat tersadar akan langkah kecilnya yang salah? Ya! Bagaimanapun hubungannya dengan Bara adalah hubungan terlarang. Bara masih milik Raesha. Dan dia tak berhak memisahkan pasangan yang telah disatukan semesta. Ada ataupun tidak ada skenario dibelakang hubungan mereka, tetap saja, Laras telah melakukan kesalahan! Pada Raesha dan pada semesta!

Ahh.. Sebenarnya rasa bersalah itu telah hadir di hatinya sejak lama. Berulang kali pula dia telah mengatakan rasa bersalah itu pada Bara. Meminta Bara berhenti menemuinya. Meminta Bara berhenti berhubungan dengannya! Meminta hubungan mereka berhenti sebelum Raesha mengetahuinya.

“Aku akan berhenti menemuimu jika memang kau tak menginginkannya. Tapi bukan dengan alasan Raesha.”
Selalu itu jawaban Bara saat Laras menyampaikan ketakutannya.

“Mungkin bukan karena Raesha. Tapi karena apa yang kita lakukan ini salah.”

“Tak ada yang salah dengan cinta.”

“Cintanya memang tak salah. Tapi kita yang salah. Kita telah melanggar banyak hal. Norma, kepantasan.. Bahkan sumpah setia.”

“Aku tak perduli dengan segala norma dan kepantasan.”

“Lalu soal setia?”

“Sumpah setia hanya berlaku saat masih ada ikatan cinta.”

Memang tak ada kata-kata cinta untuk Laras. Tapi jawaban Bara saat itu terdengar di telinga Laras sebagai ungkapan cinta.

“Betapa bodohnya!” Geram Laras sambil membanting adonan yang akan dijadikannya donat dalam sebuah nampan.

Selama ini memang tak pernah ada ungkapan cinta dari Bara. Bahkan Bara tak pernah benar-benar memintanya jadi seorang kekasih. Hubungan mereka berjalan begitu saja. Mengalir dan akhirnya begitu dekat, melewati batas-batas ikatan persahabatan!

“Bodoh! Atau jangan-jangan hanya aku sendiri yang menganggapnya kekasih?” Laras berhenti dengan tangan masih memegang adonan. Benaknya sibuk membuka lembaran-lembaran kisah pertemuannya dengan Bara. Sibuk mencari kata-kata cinta yang mungkin pernah terucap. Sibuk mengingat setiap kenangan yang dijalaninya berdua.

Tak ada! Tak pernah ada! Andaipun ada, dia tak mungkin melupakannya.

Tapi bukankah di usia mereka memang tak harus ada kata-kata? Bukankah tak semua orang mampu mengungkapkan rasa? Bukankah tak semua rasa mampu diwujudkan dalam kata?

Sikap Bara toh menunjukkan bahwa memang ada yang istimewa dengan hubungan mereka. Dan bagi Laras memang istimewa! Karena dia tak mungkin membiarkan Bara mencium bibirnya jika memang mereka tak ada ikatan rasa. Dan jika menurut Bara ciuman bibir bukan hal istimewa, setidaknya malam itu tak akan terjadi jika Bara menganggapnya sahabat saja!

Dengan pelan semburat merah mewarnai pipi Laras. Hatinya berdesir panas. Kulit tubuhnya menggelenyar setiap kali dia mengingat kejadian malam itu. Malam yang manis. Yang serasa sudah seabad tak pernah dia rasakan. Malam di mana dia kembali merasa menjadi perawan lugu yang belum pernah bercinta!

Malam itu memang suasana seperti memberi restunya. Malam yang dingin karena sesiangan hujan deras. Anak-anak bahkan tak terbangun untuk sekedar minum air putih seperti biasa. Dan Bara begitu harum dan wangi. Dan Laras begitu lelah saat itu setelah menyelesaikan 50 biji donat, pesanan tetangga untuk pesta ulang tahun anak mereka. Kelelahan yang terpancar keluar. Hingga Bara melihatnya.

“Capek?”

Laras hanya tersenyum dan mengangguk malam itu. Begitu lelahnya hingga hanya diam saja saat Bara meraih bahunya. Bahkan dia memejamkan mata menikmati setiap pijatan tangan Bara. Pijatan yang tepat di urat-urat kelelahannya. Pijatan yang tepat di pori-porinya yang berdenyut nyeri saat arah pijatan itu mulai berubah. Pijatan yang membuat Laras mendesah, bergelinjang dan memekik pelan saat kedua telapak tangan itu menangkup dadanya.

Tak ada penolakan. Laras justru merapatkan matanya. Laras justru terus bergelinjang menikmati setiap remasan dan kuluman. Laras justru mendesah penuh permohonan saat kewanitaannya berdenyut nyeri oleh belaian dan ciuman. Bahkan Laraslah yang berinisiatif membawa Bara masuk ke kamar depan!

Tak ada permintaan. Tak perlu ada kata di antara mereka. Hanya lengan-lengan yang berebut saling memuaskan dahaga. Hanya kecipak ludah yang terdengar saat saling membuat basah. Hanya dengus dan desah yang mengiringi irama permaianan cinta mereka. Hingga kemudian pekik puas Laras mengakhiri percintaan mereka!


***

Goresan Cerita Rinzhara

(bukan) Rekayasa Cinta - bagian 1



Keheningan menyelimuti serambi depan rumah. Hanya gemerisik ilalang yang terdengar. Dan sesekali deru kendaraan di kejauhan. Laras menengadahkan wajah. Menatap senja yang mulai datang perlahan. Berusaha mengaburkan amarah dengan menikmati semburat merah yang tampak indah. Keindahan yang biasanya mampu menenangkan segala gundah. Tapi senja ini justru membuat matanya berlinang. Membuat luka di hatinya semakin terasa menyakitkan. Membuat dadanya sesak oleh isak yang menggumpal.

Laras menarik nafas panjang. Berusaha sekuat tenaga menahan isak. Tak boleh ada air mata. Tidak saat perempuan bernama Raesha itu masih ada di depannya. Dia tak akan mempermalukan dirinya dengan tangisan. Dia tak akan membiarkan dirinya tampak bodoh di depan Raesha. Sudah cukup kebodohannya selama ini. Hingga mengira perempuan sempurna di depannya ini datang mengulurkan ikatan persahabatan. Sudah cukup kenaifannya selama enam bulan ini. Hingga begitu tololnya masuk dalam jebakan permainan Raesha.

“Oh Tuhan... Betapa kejam permainan Raesha! Betapa tololnya aku hingga mudah terjebak!”

Laras memalingkan wajah. Butiran bening di sudut mata sudah siap tumpah. Masalah ini terlalu berat buat perempuan sederhana sepertinya. Yang tak pernah mengenal intrik dan tipuan. Yang hidupnya hanya diwarnai hal-hal seputar urusan rumah tangga. Yang otaknya hanya digunakan untuk memikirkan bagaimana cara bisa menghidupi kedua anak yang masih balita sendirian.

Ahh... Permainan Raesha terlalu menyakitkan bagi hatinya yang rentan!

Bagaimana perempuan biasa sepertinya mampu memahami niat jahat perempuan pintar itu? Bagaimana dia bisa tahu bahwa untuk orang-orang kaya dan pintar seperti Raesha, memaknai cinta bukan hanya sekedar rasa. Bukan hanya sekedar pertautan dua hati yang saling mendamba. Tapi lebih dari itu.. Orang-orang seperti Raesha memaknai cinta lebih pada apa yang bisa didapat dari sebuah hubungan. Lebih pada bagaimana dia bisa mendapatkan sebanyak apa yang sudah diberikan. Cinta bagi orang-orang seperti Raesha lebih rumit dari pada makna cinta bagi Laras.

“Oh Tuhan... Bagaimana perempuan sepertiku bisa tahu bahwa semua ini hanya permainan?”

“Baiklah, Laras!” Laras memalingkan wajah. Melihat Raesha sudah beranjak dari duduknya. Menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. Ekspresi yang sama sejak kedatangannya.

“Aku tahu kamu butuh waktu untuk memikirkannya. Dan aku juga tak berniat meminta jawaban sekarang. Minggu depan, Laras. Aku harap kamu sudah memiliki jawaban.”

Ada kilatan di mata Laras. Ditatapnya perempuan itu dengan amarah yang tak lagi disembunyikan.

“Sampai kapanpun, jawabannya akan sama. Tidak! Kau pikir aku perempuan murahan? Perlu kau tau, Raesha! Tak semua hal bisa kau beli dengan uang!”

Nada suara Laras mengeras. Tatapannya semakin tajam. Namun perempuan di depannya hanya mengibaskan tangan. Masih dalam posisinya berdiri di depan Laras. Masih dengan ekspresi tak terbaca.

“Baca dan pelajari saja dulu! Tak ada yang menganggapmu murahan. Dan aku bisa menambah nominalnya jika kamu rasa masih kurang.”

“Bawa pulang sampah itu!” Dengan kasar didorongnya bendel kertas di atas meja, “dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini! Dengan perjanjian itu atau tanpa perjanjian itu!”

“Ayolah, Laras! Baca saja dulu dan pertimbangkan tawaranku. Tak ada yang dirugikan di sini. Justru perjanjian itu akan membantumu lepas dari masalah.”

Laras menggelengkan kepala dengan gemas. Kesal dengan cara Raesha memaksa. Menyambar bendel kertas itu dengan kasar, berdiri dan melempar kertas itu ke dada perempuan angkuh di depannya.

“Masalahku adalah urusanku. Masalah ini sudah bersamaku sepanjang hidupku. Tak ada urusannya dengan kau! Dan masalahmu, Raesha! Juga tak ada urusannya denganku!”

“Jangan terburu-buru, Laras. Bukankah akan menyenangkan untukmu? Kamu bisa lepas dari lilitan hutang yang selama ini mencekik hidupmu. Dan.. Bukankah kamu seharusnya berterimakasih padaku, karena aku mewujudkan mimpimu dengan Bara?”

Laras mengerjap saat gelombang kemarahan itu mendesak keluar. Tak terbendung. Tak mampu lagi ditahannya. Dengan geram, Laras berdiri dari duduknya. Menatap tajam Raesha. Meluapkan segala sakit yang menyiksa hatinya.

“Tak ada mimpi apapun antara aku dan Bara. Kau pikir aku perempuan bodoh yang bisa kau permainkan seenak perutmu? Kau pikir aku begitu miskinnya hingga mau menjual cintaku? Tidak Raesha! Tak semua orang sepicik kamu! Tak semua orang tak memiliki hati sepertimu!”

“Wow! Bukannya kamu yang mempermainkan aku, Laras? Come on.. Di sini kamu-lah yang tak memiliki hati. Kamu mengkhianati orang yang telah menganggapmu sahabat, Laras. Bukan aku!”

“Tapi kau yang menjebakku. Kau yang merencakan semuanya. Kau yang mengatur semuanya tanpa pernah kusadari sebelumnya. Kau licik! Kau ular, Raesha!”

“Wah..wah..wah.. Kenapa semua kau bolak balik, Laras? Tak ada seorang perempuanpun yang rela suaminya dicuri oleh perempuan lain. Tak ada Laras!”

“Pembohong! Kau di belakang semua yang terjadi.” Suara Laras masih keras, namun sedikit bergetar. Sebersit rasa bersalah menggores kemarahan.

“Jangan mencari pembenaran, Laras! Jangan sok naif! Kamu pikir aku bisa mengatur rasamu? Kamu pikir aku cupid yang bisa mengatur kemana arah cintamu berlabuh? Hahaha... Laras.. Laras! Hatimu sendiri yang menentukan rasa. Bukan aku! Come on.. Kamu mencintai suamiku, Laras. Jangan lupakan itu!”
Kini Laras benar-benar tak mampu lagi menatap Raesha.

“Harusnya kau berterima kasih padaku, Laras. Aku tak menuntutmu. Aku tak melabrakmu karena telah berselingkuh dengan suamiku. Aku bahkan datang untuk memberikan suamiku.”

“Tapi demi keuntunganmu!” Sambar Laras cepat.

“Kamu tahu, Laras? Akan lebih mudah bagiku dan Bara untuk mengadopsi anak. Akan lebih mudah buatku, Laras. Daripada melihat Bara bersama perempuan lain.”

Raesha menunduk saat mengatakannya. Berhenti sesaat. Meletakkan bendel kertas perjanjian itu kembali ke atas meja. Menatap Laras dengan pandangan terluka. Ekspresi yang mengejutkan buat Laras. Ekspresi pertama yang diperlihatkan Raesha sejak kedatangannya senja ini.

“Jika kamu saat ini merasa terluka, Laras.. Maka ketahuilah! Bahwa lukaku lebih dalam dari milikmu!”

Perempuan itu kemudian membalikkan badan. Berjalan cepat meninggalkan serambi rumahnya. Menghilang bersama deru mobilnya yang semakin tak terdengar. Membiarkan Laras dalam kegamangan. Membiarkan Laras dalam rasa bersalah yang semakin menghujam. Membiarkan Laras dalam keterdiamannya.. Dengan mata basah!


***

*** bersambung ***

Goresan Cerita Rinzhara