(bukan) Rekayasa Cinta - bagian 3




Sedari tadi dia hanya berputar-putar tanpa tujuan. Menyusuri jalanan ibu kota tanpa arah. Menjauhi rumah. Sibuk dengan relungnya. Sibuk dengan gejolak rasa. Mengaburkan gundah pada kerlip lampu-lampu malam yang ceria. Melarungkan sakit hati pada angin yang berhembus melalui kaca jendela mobilnya. Menyiapkan rasa untuk menghadapi Bara.

Ya! Bara mungkin sudah tahu apa yang telah terjadi senja tadi di beranda. Perempuan itu mungkin sudah menceritakan tentang perjanjian yang dia tawarkan. Dan mungkin sekarang Bara sedang menunggunya di teras seperti biasa. Dengan wajah tegang. Dengan mata merah menahan marah. Menunggu penjelasannya yang panjang lebar tanpa kata. Mungkin Bara tak akan meledakkan marahnya seperti biasa. Bara hanya akan diam. Mendiamkan Raesha lebih tepatnya. Berlalu dari depannya dan mengunci diri dalam kamar. Menghindarinya hingga berhari-hari. Hingga Bara bosan atau hingga waktu mengurai pertikaian. Seperti biasa!

Ahh.. mungkin juga tak seperti itu! Mungkin kali ini berbeda. Oh ya! Tentu saja kali ini berbeda. Bara mungkin akan meledakkan amarahnya. Mungkin dia tak akan diam. Mungkin dia memilih berlalu dari hidupnya. Pergi ke tempat Laras. Mengadukan penyesalannya atas sikap Raesha. Mengadukan sakit hatinya. Dan memutuskan untuk meninggalkan Raesha selamanya.

Ya! Ya! Mungkin itu yang akan terjadi sekarang. Mungkin dia justru akan kehilangan Bara selamanya!

Ahh.. Seharusnya dia tak gegabah mengambil keputusan. Seharusnya dia memikirkan baik-baik langkah yang akan dia ambil. Mungkin seharusnya dia tetap berpura-pura tak mengetahui tentang perselingkuhan mereka. Menutup mata atas hubungan mereka yang telah melampaui batas. Menahan rasanya sementara. Menunggu waktu yang memisahkan mereka.

Ya! Bukan tidak mungkin Bara suatu waktu akan bosan pada Laras. Siapa tahu saat ini Bara hanya sedang tergoda pesona perempuan yang berbeda jauh dengan istrinya. Ya! Bisa jadi itu yang terjadi jika saja dia mau sedikit bersabar.

Bukankah selama ini banyak lelaki yang lebih memilih istrinya ketimbang selingkuhan? Hanya sebagian kecil lelaki yang mengorbankan keluarganya untuk kekasih gelap mereka. Dan dari sedikit lelaki itu hanya lelaki-lelaki bodoh-lah yang tak bisa mensyukuri apa yang telah mereka dapatkan! Bagi kebanyakan lelaki, selingkuh hanya sebuah permainan. Hanya dijadikan sebagai alat pemuas ego mereka. Atau hanya sebuah selingan di antara jenuhnya rutinitas. Karena itulah mereka selalu menyembunyikan kekasih-kekasih gelap mereka. Melakukan banyak kebohongan pada istri mereka karena takut rumah tangganya berantakan. Menyembunyikan pengkhianatan karena mereka menganggap para selingkuhan itu hanya sebuah permainan yang tak akan diijinkan merusak pernikahannya!

Seperti Bara yang menyembunyikan hubungannya dengan Laras di depan Raesha! Ahh.. Apakah itu berarti Bara juga lebih memilihnya dibanding Laras? Apa itu berarti Bara takut rumah tangganya berantakan jika Raesha mengetahui tentang kekasihnya? Benarkah Bara lebih memilihnya? Benarkah dia menyembunyikan Laras karena ingin mempertahankan kehangatan rumah tangganya bersama Raesha? Atau hanya ingin menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskannya pada Raesha? Atau mungkin Bara sendiri belum yakin dengan Laras?

Ya..ya..ya! Tak mungkin Bara lebih memilihnya dibanding Laras. Tak mungkin Bara mempertahankan rumah tangga mereka. Tak ada kehangatan dalam hubungan pernikahan mereka. Tak ada apapun yang dimiliki Raesha untuk mempertahankan Bara. Tak ada! Hanya lelaki bodoh yang lebih memilih perempuan angkuh yang tak bisa memberikan keturunan dibanding perempuan lembut yang bisa melahirkan selusin anak!

Raesha menyentakkan kemudinya ke kanan. Mengambil jalur bebas hambatan. Memacu mobilnya kencang setelah melewati pintu gerbang tol luar kota. Melampiaskan semua kemarahannya pada laju kendaraan. Meleburkan sakit hatinya pada angin yang bertiup kencang akibat laju kendaraan yang cepat. Membekukan air matanya agar tak tumpah!

Sebenarnya ada satu hal yang mengganjal di hati Raesha saat meninggalkan beranda rumah Laras. Sebuah tanya yang tak terucap. Yang sengaja tak dia tanyakan tapi terus mengganggu pikirannya.

Kenapa Laras mengira semua ini sebuah rekayasa? Kenapa Laras berpikir bahwa dia telah merencanakan semua ini bersama Bara? Bahwa Bara mendekati Laras demi tujuan yang sama? Adakah kata-kata Raesha yang salah? Yang membuat Laras berpikir bahwa semua ini telah dia rencanakan?

Raesha mengendurkan injakannya pada pedal gas. Benaknya sibuk memutar ulang kejadian di beranda rumah Laras.

Senja tadi dia datang dan menyerahkan map merah berisi surat perjanjian tanpa kata. Lebih banyak diam dari pada biasanya. Dia bahkan tak berbasa basi menanyakan kabar anak-anak Laras. Dia bahkan tak membawa oleh-oleh untuk mereka seperti kebiasaannya. Hatinya terlalu gundah hingga tak terpikirkan. Dia terlalu sibuk memperhatikan ekspresi Laras saat membaca surat itu hingga tak memperdulikan keberadaan anak-anak Laras. Dia terlalu terkejut dengan tuduhan Laras senja tadi hingga tak perduli apapun juga!

“Sudah berapa lama kalian merencanakan hal menjijikkan ini? Sudah berapa lama, Raesha?”

Awalnya dia benar-benar tak mengerti maksud pertanyaan Laras. Jadi dia biarkan Laras menumpahkan rasa kesal dan kemarahannya. Dia hanya diam, sambil menyerap satu demi satu kata-kata Laras.

“Tega sekali kalian memperlakukanku. Sehina itukah aku di mata kalian? Kalian benar-benar tak punya hati! Bahkan pelacurpun lebih berharga dari pada kelakuan kalian.”

Banyak kata-kata pedas dan menyakitkan yang dilontarkan Laras. Yang membuat Raesha tak mengerti sama sekali. Bukankah seharusnya dia yang mencaci Laras? Bukankah perempuan itu yang bertindak murahan dengan bercinta dengan suami Raesha?

Raesha menggeram penuh amarah. Kata-kata itu lebih tepat ditujukan pada Laras. Bukan Raesha! Bukankah perempuan itu yang telah melacurkan diri pada suami Raesha? Jadi kenapa justru perempuan itu mengatai Raesha lebih buruk dari pelacur? Justru laras-lah yang lebih buruk dari pelacur! Pelacur toh masih menghargai tubuh mereka dengan nominal tertentu. Sedangkan Laras? Dia melakukannya dengan suka rela. Tanpa bayaran! Mencurangi sahabatnya. Mengkhianati kebaikan Raesha! Tidur dengan suami Raesha!

Geraman yang lebih keras kembali terdengar dari mulut Raesha. Kemarahan begitu menguasainya. Kejadian seminggu lalu kembali terbayang. Apa yang dilihatnya di serambi rumah Laras kembali tergambar jelas.

Malam itu dia berjalan kaki dari menyelesaikan urusan kerjaan di suatu tempat yang jaraknya memang cukup dekat dengan rumah Laras. Terlalu lelah untuk kembali ke kantornya mengambil kendaraan. Dan memutuskan untuk singgah di rumah sahabatnya, menghubungi suaminya dan meminta jemput secepatnya. Tubuhnya teramat penat hingga dia ingin segera pulang ke rumah. Berendam air panas dan membenamkan tubuh di atas ranjang yang nyaman.

Sebelum malam itu, dia tak pernah berpikir apapun tentang Laras dan suaminya. Dia tahu Bara sering berkunjung ke rumah Laras. Seperti dirinya, Bara menyayangi anak-anak Laras. Sering mampir ke rumah Laras sekedar bercanda dan bermain dengan dua anak Laras yang pintar-pintar. Sering mengajak kedua anak itu untuk sekedar berjalan-jalan di taman. Dia dan Bara menumpahkan rasa rindu akan hadirnya buah hati pada kedua anak manis Laras.

Jadi wajar jika malam itu dia tak berprasangka apa-apa saat melihat mobil Bara di halaman rumah Laras. Dia bahkan bersyukur karena tak perlu repot menelphon Bara. Tak perlu jenuh menunggu kedatangan Bara. Dia bisa segera mengajak Bara pulang atau mampir dulu untuk makan malam di restoran favorite mereka.

“Oh Tuhan.. Aku bahkan tersenyum ceria malam itu!”

Ya! Raesha memang tersenyum ceria malam itu. Melangkah cepat sambil matanya menatap beranda depan dengan berbinar. Melihat sosok Bara yang tegap sedang duduk membelakanginya. Melihat wajah Laras yang tersenyum letih di kursi panjang samping kanan. Dia sudah cukup dekat malam itu saat tiba-tiba Bara bangkit dari duduknya. Pindah ke samping Laras. Keningnya berkerut heran saat melihat tangan Bara memegang bahu Laras. Begitu herannya hingga kakinya berhenti melangkah. Berdiri diam berselimut kegelapan. Terus menatap dua orang terdekat dalam hidupnya yang tengah mempertontonkan hal yang tak wajar. Melihat dengan jantung berdegup kencang saat kedua tangan Bara mulai bergerilya meraba tubuh Laras. Melihat dengan hati tersayat saat mereka berciuman mesra. Mereka.. Bara dan sahabatnya malam itu berhasil menghancurkan hidupnya saat melangkah masuk terburu dengan masing-masing tangan sibuk membukai pakaian!

Raesha tersengal isak. Butiran bening itu akhirnya tumpah. Untuk pertama kalinya sejak kejadian di beranda, air mata Raesha mengalir membasahi wajah!

***


Bersambung...

Goresan cerita Rinzhara 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar